Friday, December 7, 2007

4 Desember

Dingin itu

Menyelimuti kita

Membuat kita merasa payah

Kita lebih menyukai kehangatan

Seperti yang selalu berusaha kita ciptakan


Apa yang kita selalu inginkan

Adalah terputusnya waktu

Supaya kita bisa tetap berpelukan

Tanpa memusingkan hari esok

Supaya kehangatan ini tetap terjaga

Dan tidak mendatangkan nestapa


Yang paling mungkin adalah dengan beranjak lekas-lekas

Dari bayang-bayang suram hari esok

Dan kamu pun lantas memilih

Meninggalkanku

Yang masih mencintai senja

Biarlah Mati

Dalam kecemasan yang datang sore itu
Ribuan kata tiba-tiba saja menyeruak dan menyita ruang lamunanku
Haruskah bertahan?
Ataukah lebih keras lagi pada diri pribadi
Mengangkat segenap daya
Menakhlukkan hidup
Apa yang sekarang melekat pada diri
Haruskah dihempas dan ditinggalkan?
Ribuan wajah dan ribuan kenangan
Ratusan cinta, persahabatan dan mitra sejati
Jutaan kisah tragis
Jutaan kemenangan
Apa yang di depan
Apa yang harus dilampaui
Aku memilih membungkamnya
Cukup sampai disini saja
Biar tegur sapa
Yang menuntun langkah
Daripada lembaran-lembaran itu
Aku lebih menghargai mereka karena mereka hidup
Yang mati biarlah mati

High Fidelity

"...cerita tentang kesedihan selalu dialunkan dalam melodi yang indah, sementara sukacita akan diiringi musik yang berdentam-dentam hambar. Hakekat hidup memang sungguh menyedihkan: perjumpaan berakhir perpisahan, cita-cita dan idealisme dikalahkan dengan kompromi, rasa memiliki dan kemudian kehilangan, bahkan kehidupan itu sendiri dengan kematian di ujungnya."

(Bete, inspired by High Fidelity, 14 November 2007)